Menyelami ‘Penderitaan’ Bangsa Afrika di Lagu Wavin’ Flag

Bahasan yang berawal dari obrolan ringan perjalanan diatas ‘Belalang Tempur’ yang selalu setia menemani. Begitulah kami, aku dan Ani, seorang teman karibku mengistilahkan hal itu. Entah bagaimana mulanya, kami membahas makna lagu soungtrack Piala Dunia 2010 yang sedang getol-getolnya kami dengarkan di kos.

Lagu “Wavin’ Flag” yang didendangkan oleh K’naan, dengan Bahasa Inggris yang dilafalkan dalam Bahasa Ibu cukup menggelitik hatiku. Meski terdengar sedikit aneh, rasanya kita tak terlalu sulit menangkap setiap lirik dengan dahi berkerut sembari menyorongkan tubuh lebih dekat dengan speaker.

Bagiku, lagu piala dunia kali ini berbeda dari biasanya. Selain penyanyinya orang Afrika, makna liriknya juga sangat dalam. Seingatku, pada Piala Dunia 2006, Shakira diaulat menjadi salah satu artis yang menyanyi untuk momen tersebut. Lagu yang berjudul Hips don’t lie bamboo tersebut kurang kupahami makna liriknya yang menurutku berkisah seputar semangat dan uforia Piala Dunia saat itu.

Namun, dalam lirik lagu K’naan (nama penyanyinya), aku memiliki pendapatku sendiri. Mungkin karena Piala Dunia tahun ini diadakan di Negara Afrika yang ku tahu adalah Negara dengan kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan. Tidak hanya masalah ekonomi, kondisi politik, pendidikan dan sosialnya juga cukup membuatku mengelus dada. Tanpa sengaja ku dapat berita itu dari televisi atau membaca surat kabar. Dimataku, Afrika merupaka salah satu negara konflik.

Pada intinya, lagu ini berisi curhatan bangsa Afrika, tentang betapa menderita dan terjajahnya mereka. Jelas sekali bahwa K’naan menginginkan  Afrika bebas dari perang saudara, penjajahan, kemiskinan, dll. Dia benar-benar merasakan neraka dunia ini karena ia dilahirkan di Somalia yang sejak tahun 1986 hingga saat ini terkenal dengan Civil War-nya.

Inilah link lirik lagu K’naan yang cukup membuatku, atau kita merenung tentang keadaan bangsa Afrika yang ingin mereka bagi ke seluruh penjuru dunia.

Sulitnya Menetralisir Rasa

Percakapan yang terjadi minggu ini, ternyata masih membuatku sakit dan perih. Ini cerita sebuah pengakuan yang telah ku lakukan untuk kedua kalinya. Aku kembali menjadi wanita bodoh yang terdikte oleh perasaan. Aku menulis inipun untuk meluapkan kekesalanku yang sudah mlampaui batas mengkhawatirkan. Aku tak tahan… Baca selebihnya »

Memaknai ‘Orang yang Tepat’

Baca selebihnya »

Terima Kasih

Mencoba memeras otak untuk berpikir dan menulis. Berawal dari ide gila bersama teman dekatku, Ndul, begitulah aku biasa memanggilnya, untuk pergi ke kampus di Hari Raya Umat Hindu ini. Berbekal beberapa batang coklat choki-choki dan sebotol air mineral kita mencoba menikmati suasana hati kita masing-masing. Duduk dibawah gedung Rektorat, diiringi dengan suara gemericik aliran Sungai Brantas.

Sesungguhnya, aku tak berkeinginan menulis apapun. Hanya ingin menepis rasa sendu yang akhir-akhir ini menguasai hatiku. Memaksa hati dan pikiran untuk mulai mengerjakan skripsi, sulit sekali. Sepertinya aku harus melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan semangatku yang tercecer, berantakan.

Aku awali dengan kembali meramaikan blogku yang sepi. Tak peduli, jika aku hanya menulis kisah-kisah sampah yang tak berguna saat dibaca orang lain. Entahlah, aku hanya berupaya merekondisikan hatiku dengan cara apapun, salah satunya dengan bercerita melalui blog.

Nasihat temanku seputar tulisan-tulisanku cukup membantu. Ya, ku anggap hari inilah titik balik dalam kehidupanku. Aku masih berupaya menormalkan kadar rasaku. Aku tak ingin menyekat bayangnya disudut hatiku yang sepi. Apalagi berkeinginan menculiknya, membunuhnya, memasukkannya dalam peti, dan sesekali menatapnya lekat jika ku ingin.

Apa yang terjadi padaku saat ini adalah karena DIA. Karena makhluk bernama laki-laki yang saat ini belum bisa ku percayai hati dan perkataannya. Di satu sisi, aku sangat menginginkan rasa itu, namun disisi lain, rasa itu membuat sisi lemah wanitaku menggeliat jalang. Bukannya aku sok suci dan menobatkan diriku sebagai wanita sempurna, aku hanya merasa harus berupaya mengendalikan dan mengkondisikan perasaanku saja.

Pada akhirnya, aku menyadari bahwa aku telah kehilangan waktu, dan terbuang sia-sia. Terima kasih untuk setiap mili kebahagian yang ku rasakan, dan aku sangat menikmatinya. Terima kasih untuk setiap tetes perhatian yang kau berikan, dan aku merasa sangat terlindungi. Terima kasih untuk setiap kata pujian yang kau utarakan, dan aku merasa sangat tersanjung. Terima kasih, hanya itu yang mampu ku bahasakan untukmu.

Tertawa di antara Korban Mode

Saat itu, pergi ke perpustakaan kota Malang tidak ku rencanakan sebelumnya. Walhasil karena berniat menemani temanku yang tengah ngebut mengerjakan skripsinya, aku pun ngetame di perpus hingga Adzan Magrib berkumandang. Setelah di dalam perpustakaan temanku mulai berkutat dengan buku bertema sosial dan pendidikan untuk skripsinya.

Akupun mulai memilih-milih buku yang ingin ku baca. Kalau tidak salah, saat itu aku mengambil buku di rak Wanita dan Kecantikan. Aku mengambil buku tipis perpaduan warna pink dan putih. Kuamati sekilas ternyata buku tersebut diadopsi dari blog. Dimataku, hal yang diambil dari blog biasanya amat menarik, seperti buku Kambing Jantan-nya Raditya Dika.

Judulnyapun sangat tidak lazim, Kepleset! Gerundelan tentang Gaya Hidup oleh Regina Kencana. Buku yang diilhami dari blognya di www.serasasekali.blogspot.com tersebut tidak mencakup bahasan seperti umumnya. Tepatnya berisi foto-foto produk Indonesia yang meniru buatan luar negeri. Ada juga penggunaan kata-kata dalam Bahasa Inggris  yang gak keminggris banget. Jika kalian termasuk oran-orang tahu merek-merek top, maka membaca buku ini membuat kalian menahan tawa.

Terbukti, saat aku dan Bundos (Nisa) menbaca buku ini, kamipun tertawa. Korban humor selanjutnya adalah Sari, temanku yang saat itu menyusul ke perpustakaan. Walhasil kami pun tertawa bersama. Disini, aku Cuma ingin berbagi ceria saja. Dibawah ini ada sebuah percakapan yang juga dimuat di buku tersebut. Jika kalian tau maksudnya, maka kalian akan tertawa. (dan semoga kalian benar-benar tertawa… Hehehe)

Gempar Elektronik

Suatu pagi dikantor, seorang teman membawa berita temuannya dari pasar elektronik Glodok Jakarta.

Teman    : Gue nemuin sesuatu di Glodok tapi gue lagi gak bawa kamera

Saya    : Apa tuuuh?

Teman    : Ada merek DVD player namanya Sumsang dan Pansosic

(Terima kasih buat Marsha Supaat)
Makasih ya Mbak Regina buat humornya. I love it very much…!!! Muaaaaaahhh….

Mars vs Venus

Hari ini aku lagi bersih-bersih kamar, tepatnya setelah beberapa hari kamarku seperti kapal pecah. Kertas-kertas bertebaran dimana-mana dengan debu dan potongan-potongan rambut milikku, Pinandu, Nisa mungkin milik Sari juga ada. Tidak lupa pula, aku ditemani oleh radio sekaligus siaran dan penyiar favoritku di 102.1 Kalimaya Baskara FM. Morning Drive, next only morning surprise….

Hari ini yang siaran Pogi (He’s my favourite announcer) sama Nisa. Bahasan yang diangkat adalah seputar 3 hal yang dibenci cowok tentang cewek, dan begitu juga sebaliknya. Ada seorang penelpon bernama Bayu yang menginspirasiku untuk mengulis ini. Jadi, aku langsung menyalakan laptop dan menulis serta membahas sedikit topik ini. Dari beberapa penelpon cewek yang ku dengarkan, mayoritas mengatakan cowok ngaret, lupa waktu, dan ingkar janji adalah yang mereka benci. Dalam ini, aku juga mengetahui secara pasti. Meski aku gak punya cowok, setidaknya untuk saat ini (Promosi ya… Hehe), aku tahu beberapa temanku di organisasi yang lupa waktu ketika mereka lagi main PS. Untungnya, mayoritas mereka adalah jomblo sepertiku.

Pada intinya, cowok akan melupakan sekelilingnya, juga kekasihnya ketika mereka sedang berada di ‘surga’ versi mereka. Seperti, lingkungan pertemanan, kegemaran, dan kondisi yang nyaman. Jika sudah begitu, mereka akan seperti autis yang sibuk dengan dunianya sendiri dengan mengutip mantra milik Bob Marley, No Woman No Cry.

Ada juga yang bilang, cowok nyebelin lo lagi tuanya kambuh alias suka ngatur-ngatur, gak jelas (contohnya, kita ngambek dia ikut ngambek), gede gengsinya, gila kerja, over protektif, boker sambil ngerokok, manja banget, suka flirting, suka ‘nyosor’, cuek sama kesehatan n penampilan, dengerin curhat lewat telpon and ketiduran, pelit ngomong, egois, suka godain temen cewek, suka ngilang gak jelas, susah minta maaf, dugem, terlalu nurut, lemot, cuek, misterius, banyak alasan waktu nolak buat lakuin sesuatu, sibuk organisasi, suka begadang, suka buat khawatir, suka gak kasih kabar, masa PDKT lebih romantis ketimbang setelah jadian, suka liat bokep, gak bisa bilang gak sama temen, metal (melow total), suka selingkuh, gak jujur, mungkin matre juga. Hehe…

Trus, cowok juga gak suka beberapa sikap yang gak jarang bikin mereka BT. Seperti kata Bayu, ceweknya paling demen ngungkit-ngungkit yang udah lalu. Misalnya lagi ngobrolin apa gitu bilang, “Kamu kemaren… kamu seminggu lalu, kamu sebulan lalu….”. Intinya, dari ngungkit hal yang sudah bisa merembet kemana ja, bahkan bisa berantem. Cowok juga gak suka cewek yang dandannya lama, egois, lama kalo nemenin belanja, gak jujur, cemburuan, manja, terutama MATRE (meski cwok juga gak menutup kemungkinan…), ngambek, terlalu mandiri, suka ngatur sampek ngelarang-ngelarang, dll…

Tidak melulu hal yang kita benci, adalah bena-benar yang kita benci, namun terkadang hal itu juga sangat kita rindukanboys-girls1

Kapitalisme dalam Asap Rokok

040607-antirokok

Rokok. Siapa yang tidak kenal benda yang diasumsikan banyak orang sebagai ‘teman sejati’. Menurut beberapa temanku, rokok tidak pernah meninggalkan kita, baik dalam senang maupun sedih. (Namun, dengan sedikit bergumam aku menjawab, “ya. Tapi, ia akan meninggalkanmu ketika kau tidak punya uang”) rokok bisa dinilai dari berbagai perspektif. Mulai dari kesehatan, nilai kapitalisme, hingga sekedar entertain semata.

Siapa sangka, jika benda sekecil itu menyimpan pesan yang sangat mengerikan. Namun, tetap saja…! Mengerikan bagi siapa dulu…?! Mungkin bagi kita, namun kita tidak pernah menyadari apa yang terkandung dalam pesan rokok sesungguhnya. Setelah aku membaca buku Jangan Tanya Mengapa: Perusahaan Rokok Untung Besar !! yang ditulis oleh Eko Prasetyo dan Terra Bajraghosa, aku baru tahu seberapa besar kekuatan kapitalisme di dalam rokok. Meski pada dasarnya aku tidak pernah mawacanakan tulisan yang agak ‘berat’ dalam blog ku.

Rokok, dari produk yang diklaim mengandung racun dan dapat mengakibatkan kematian dapat disulap menjadi produk yang dapat dibeli dengan harga berapapun ditangan pemasar. Dengan serangan iklan yang bertubi-tubi di berbagai media, racun yang dinilai dari perspektif kesehatan seolah hilang begutu saja. Karena, sejak kapan kaum kapitalisme menilai segala sesuatunya dari sisi kesehatan?! Semuanya tetap saja sama, PROFIT.

Aku baru tahu, tepatnya setelah membaca buku karangan Eko dan temannya, bahwa keuntungan dari penjualan bersih rokok berjumlah puluhan triliun rupiah. Sedangkan laba bersih pertahun berkisar antara 1 sampai 4 triliun. Namun, keuntungan tersebut jelas tidak sebanding dengan tenaga buruh wanita yang bekerja keras layaknya lelaki dengan upan yang ditakar berdasarkan gender.

Perusahaan rokokpun sudah mulai ‘mencoba’ memperhatikan nasib masyarakat yang menurut mereka layak untuk mendapatkan bantuan. Para perusahan rokok mulai berbondong-bondong berkamuflase menjadi malaikat penyelamat.berbagai lahan mulai dijadikan sebagai ajang pencitraan diri. Mulai dari bidang sosial, pendidikan, hingga kesehatan yang jelas-jelas menentang rokok berdasarkan riset kesehatan.

Petani hanya tahu bagaimana caranya agar tembakaunya laku dan ia bisa makan esok hari. Mereka tidak pernah memikirkan berapa harga pasaran tembakau dan sejenisnya. Ya, banyak hal yang timpang dalam masalah rokok. Akupun baru mengetahui wacana rokok dari segi kapitalisme setelah membaca buku yang telah membantuku dalam merampungkan lomaba artikel yang ku ikuti di Perpurtakaan Kota Malang. Thanks a lot…

Apapun alasanya, rokok tetaplah merupakan salah satu wujud kapitalisme yang tidak pernah kita sadari. Namun, siapa peduli semua ini. Orang kaya tetap dengan dunianya yang tak tersentuh. Begitu juga orang miskin yang semakin terpuruk tanpa ada yang berniat mengulurkan tangan. Semuanya dengan satu catatan, yang penting tetap bisa merokok. Entahlah…

Aku Mengeluh, Lagi dan Lagi…

Entah mengapa, aku selalu merasa otakku kosong dan bodoh. Aku seolah tidak bisa mengusahakan apapun di usiaku yang menjelang 23 tahun. Padahal aku memiliki banyak impian tentang diriku, kehidupanku dan masa depanku. Aku seperti mayat hidup yang hampir membusuk. Jiwa dan ragaku tidak pernah melakukan apapun, hanya otakku yang lelah karena terlalu memikirkan apa yang akan kulakukan?! Ya, terkadang aku selalu merasa bahwa diriku terlalu banyak bertanya.

Aku terlalu banyak menyangsikan potensi yang ku miliki. Mungkin, aku terlalu banyak menggumamkannya, tanpa berusaha tergerak untuk melakukan sesuatu yang lebih positif. Aku terlalu banyak menghindar dan lari, tanpa berusaha berdiri dan tetap menghadapi semua yang terjadi. Aku seolah menjadi pencundang. Setidaknya, pencundang bagi diri sendiri. Menyedihkan…

Hari ini aku terbangun pukul 02.30 WIB. Aku seperti telah tertidur lama dan bangun dengan keadaan linglung. Setelah kemarin aku menghabiskan ¼ hari bersama seseorang yang tidak pernah ku pikirkan sebelumnya. Beberapa temanku justru mencurigai atas apa-apa saja yang telah terjadi. Padahal, aku merasa baik-baik saja saat itu. He is just my Brother…

Hingga memasuki bulan ke-5, aku masih mengharapkannya datang. Namun, ia justru tidak kunjung menghampiriku. Aku terlalu berharap banyak pada semua yang telah terjadi. Aku terlalu yakin pada perasaan yang telah tumbuh. Terkadang aku merasa jika dirinya hanya berusaha menenagkan diriku dengan memercikkan sedikit asa yang telah menjalari seluruh tubuhku dengan kuat hingga kini.

Aku memupuk perasaanku terlalu dalam, hingga rasa itu mengakar terus menerus. Aku merasakan diriku telah terpasung tanpa ku bisa melepaskan jerat itu. Perasaan itu telah menyiksaku, meninggalkan bekas-bekas sayatan yang masih meninggalkan bekas. Aku benar-benar ingin membebaskan diriku dari bayang-bayang itu. Namun, semakin kuat aku berusa menghapus bayang itu, semua hal tentang dirinya akan bersemayam semakin kuat dalam diriku. Akupun menyerah…

Aku membiarkan perasaanku mempermainkan diriku, mangaduk-ngaduk hati dan perasaan ku. Ternyata, sosoknya benar-benar puting beliung yang memporak-porandakan seluruh hatiku. Serasa ku ingin lari sembari menangis dan menghampirinya. Aku ingin menumpahkan segala yang kurasakan, emosi, marah, benci, kadang rindu yang meradang tanpa bisa ku lampiaskan. Aku merasa mengenalnya terlalu jauh, hingga aku terlalu berharap padanya. Ya, kali ini aku benar-benar sakit jiwa.

Ini adalah catatan putus asaku tentang hidup, setidaknya untuk hari ini…! Seseorang temanku bilang, butuh sesuatu untuk memotivasi kita dalam melakukan sesuatu. Entah orang tua ataupun seseorang yang spesial di hati kita. Namun, aku tetap membantah bahwa aku cukup menjadikan diri sendiri sebagai motivasi. That’s enough…! Meski pada dasarnya kurang berhasil, aku akan mencobanya lagi…

Love is SUCKS and Love is FUCK

Bagi kami, Cinta adalah virus yang mematikan. Setidaknya, sampai saat ini. Cinta dapat mengunci pikiran kita,  mengisolasi diri kita, dan mengirimkan jiwa kita ke negeri yang nun jauh di sana. Terkadang kita dapat menemukan jalan pulang, namun tidak jarang pula justru kita akan tersesat, tanpa bisa pernah kembali.

Begitu juga bagiku, Mbak Ani, Bundos, Bu’ Des, dan Pinandu. Semua virus itu akan ku ulas. Bagaimana virus itu membuat kita tidak bisa berbuat banyak. Ada yang menangis, memaki, hingga mendeklarasikan a man is SUCKS! And who need him. Tapi aku akan melove_sucks_by_meppol-1ngulas cerita ini dengan nama inisial saja, ya bagaimanapun juga kisah itu masih memiliki jejak yang tidak pernah bisa kita hapus, sampai kapankun. Ya, kenangan memang mematikan, namun di satu sisi ia adalah cemeti yang sesekali akan melecut kita dan mengingatkan kita akan rasa sakit.

Seperti diriku, setelah dua kali aku merasa berjuang mengalahkan perasaanku, kali inipun aku kembali mengalami hal yang sama-sama. Ya, perasaan itu kembali menderaku. Hatiku kembali terpasung dalam balok merah jambu. Aku kembali bertahan mati-matian untuk mengendalikan perasaanku, bukan dikendalikan. Aku terlalu takut bersamanya, aku terlalu takut menggadaikan hubungan yang telah lama terjalin hanya untuk sebuah tiket malam Mingguan di 21.

Dulu ketika masih bersama Papa, SPL juga merasakan hal yang sama. Baginya, lelaki adalah hambatan terbesar dalam karirnya. Dimana ia merasakan otaknya mati, pikirannya pasif dan hatinya cengeng. Ia kerap mengumpulkan rindu, membungkusnya dan menitipkannya melalui kapal barang yang tertambat di pelabuhan. Tidak jarang, ia harus menggantikan tidur panjangnya dengan terjaga di depan monitor hanya untuk melihat lekuk wajahnya. Walaupun, pada saat itu Papa justru lebih memilih bercinta dengan dunianya yang tampak lebih seksi, meski hanya benda mati. Ya, ia telah melakukan banyak, bahkan terlalu banyak.

Pada dasarnya, aku kurang tau apa yang telah dilakukan Dr pada pujuaan masa lalunya. Namun, bagiku jelas hal tersebut adalah hal yang wasting time. Aku tidak pernah mendengarnya langsung, namun aku pernah melihatnya meneskan air mata dan mengeluarkan sumpah serapah. Jelas itu bukanlah kenangan yang terpatri dalam hitungan minggu, ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk rasa sedih yang kerap ku lihat saat itu. Kenangan itu seperti lubang-lubang kayu  dari paku yang telah dicabut, membekas. Sampai saat ini, ia tidak setuju jika cinta berwarna merah jambu, warna yang cukup menentramkan hati (Meski aku antipati dengan warna itu!). Baginya, cinta bisa berwarna dan berwujud apapun.

Seperti Hnsf, yang selalu berharap perasaan itu akan datang pada tempat yang tepat. Namun, semua itu salah. Kali ini perasaan itu datang pada orang yang salah, meski kata“salah” tidak diperuntukkan untuk siapapun, tidak dirinya, tidak juga untuk pria itu. Jangankan untuk menggumamkannya, berharappun ia tak patut. Semua rasa itu terasa menyesakkannya, membuatnya tak berdaya. Ia pun menangis, dan menyesali. Namun, apa yang dapat ia lakukan?! Jika perasaan bisa dikendalikan seperti yang kita mau, maka akupun akan mengendalikan perasaanku untuk tidak memilihnya, begitu juga dengan temanku.

Pada dasarnya, Ian juga mengalami hal yang sama. Perasaan terpasung akan membuat otaknya tumpul, bibirnya kelu dan hatinya berirama tak menentu. Disatu sisi, itu adalah Jack Daniel yang dapat membuainya sesaat. Namun disisi lain, itu adalah raksa yang dapat merusak segalanya tanpa ia dapat mengenali siapa dirinya. Bagiku, saat merasakan cinta, dirinya terlihat seperti orang linglung dan tak menentu. Sesekali mencaci, sesekali memuji namun sesekali ia juga tampak sudah melupakannya. Ya, dirinya kerap merasa terkubur di liang yang ia gali sendiri. Meski detik ini, baginya cinta adalah surga yang bisa dinikmati siapa saja, karna aroma surgawi itu telah sampai diujung hidungnya. Ia telah menghirupnya dan tidak ingin menghempaskannya.

Apapun wujudnya, rasanya, ataupun sensasinya cinta tetaplah sebuah racun bagi tiap-tiap kehidupan kami. Bukannya mencela tuhan yang telah menciptakan rasa itu diantara manusia untuk saling melengkapi. Kami pasti akan merasakan sinar cinta yang sesungguhnya; bercahaya, tulus dan tanpa pamrih. Setidaknya, ia akan datang pada momen dan orang yang tepat. Semoga…

Pencarian Temanku

Menginjak usia dewasa dan matang, pernahkah sesekali kau menebak-nebak siapakah jodohmu nanti? Dan selalu bertanya-tanya dalam hati, seperti apa dia? Dari kalangan mana? Apa pekerjaannya? Itulah rahasia tuhan yang tak kan pernah diketahui umat-Nya hingga saat itu tiba. Ya, tuhan akan selalu memberikan kejutan pada tiap detik hari-hari kita.

Pernahkah kau berharap jika kekasih yang bersamamu saat ini adalah orang yang namanya akan ditulis bersama namamu dalam selebaran undangan? Apa yang kau rasakan saat itu? Mungkin segala rasa akan bercampur jadi satu, seperti kembang gula yang cepat lumer saat kau kulum. Atau, mungkin kau adalah orang yang tidak terlalu berharap banyak dari setiap hubungan yang kau jalani. Just let it flow…!

Temanku salah satunya. Setelah sekian lama, akhirnya ia menemukan rasa itu. Rasa yang selalu ia pertanyakan keberadaannya, rasa yang selalu ia sangsikan wujudnya, namun juga rasa yang kerap menyelinap melalui sela-sela lubang hatinya. Ia sendiri tidak percaya, mengapa rasa itu mampu mengaduk-ngaduk perasaannya? Padahal, tuhan tidak mengirimkannya pangeran yang datang dari negeri antah berantah, ia hanyalah seorang sahaya yang kerap melintas dihadapannya.

Terkadang kita tidak pernah menyadari, bahwa orang yang selama ini kita cari adalah sosok yang ada di sisi kita ataupun sosok yang telah lama kita kenal. Seperti halnya temanku, ia kerap memilih sesorang yang menurutnya cukup pantas. Menghampirinya, mengejarnya, kemudian menyinpannya dalam peti dan menghanyutkannya ke sungai. Namun, ia masih kerap menyusuri sungai dan mencari muara, melongokkan kepala, mungkin saja peti itu masih tertambat disana.

Ia juga kerap berharap pada sebuah pertemuan, meski hanya sesaat. Meski demikian, ia seolah terpasung dalam debaran hati yang tak menentu, takut dan senang. Menunggunya di suatu tempat di mana ia akan disadari keberadaannya. Atau mencari-cari topik pembicaraan yang sekiranya membuatnya bercerita. Namun, kali ini ia tidak perlu melakukan itu semuannya. Ternyata, sosok yang ia cari itu dekat. Tanpa perlu menantikan sebuah pertemuan, ia akan datang dan tanpa perlu mencari topik pembicaraan, ia akan bercerita dangan sendirinya.

Temanku telah menemukan potongan hatinya yang hilang. Ia tidak perlu menyusuri gurun berkilo-kilo, berlayar hingga ratusan mil, ataupun terbang hingga ribuan kaki. Karena ia telah menemukannya berdiri si sisinya. I finally found you…!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.