Bagi kami, Cinta adalah virus yang mematikan. Setidaknya, sampai saat ini. Cinta dapat mengunci pikiran kita, mengisolasi diri kita, dan mengirimkan jiwa kita ke negeri yang nun jauh di sana. Terkadang kita dapat menemukan jalan pulang, namun tidak jarang pula justru kita akan tersesat, tanpa bisa pernah kembali.
Begitu juga bagiku, Mbak Ani, Bundos, Bu’ Des, dan Pinandu. Semua virus itu akan ku ulas. Bagaimana virus itu membuat kita tidak bisa berbuat banyak. Ada yang menangis, memaki, hingga mendeklarasikan a man is SUCKS! And who need him. Tapi aku akan me
ngulas cerita ini dengan nama inisial saja, ya bagaimanapun juga kisah itu masih memiliki jejak yang tidak pernah bisa kita hapus, sampai kapankun. Ya, kenangan memang mematikan, namun di satu sisi ia adalah cemeti yang sesekali akan melecut kita dan mengingatkan kita akan rasa sakit.
Seperti diriku, setelah dua kali aku merasa berjuang mengalahkan perasaanku, kali inipun aku kembali mengalami hal yang sama-sama. Ya, perasaan itu kembali menderaku. Hatiku kembali terpasung dalam balok merah jambu. Aku kembali bertahan mati-matian untuk mengendalikan perasaanku, bukan dikendalikan. Aku terlalu takut bersamanya, aku terlalu takut menggadaikan hubungan yang telah lama terjalin hanya untuk sebuah tiket malam Mingguan di 21.
Dulu ketika masih bersama Papa, SPL juga merasakan hal yang sama. Baginya, lelaki adalah hambatan terbesar dalam karirnya. Dimana ia merasakan otaknya mati, pikirannya pasif dan hatinya cengeng. Ia kerap mengumpulkan rindu, membungkusnya dan menitipkannya melalui kapal barang yang tertambat di pelabuhan. Tidak jarang, ia harus menggantikan tidur panjangnya dengan terjaga di depan monitor hanya untuk melihat lekuk wajahnya. Walaupun, pada saat itu Papa justru lebih memilih bercinta dengan dunianya yang tampak lebih seksi, meski hanya benda mati. Ya, ia telah melakukan banyak, bahkan terlalu banyak.
Pada dasarnya, aku kurang tau apa yang telah dilakukan Dr pada pujuaan masa lalunya. Namun, bagiku jelas hal tersebut adalah hal yang wasting time. Aku tidak pernah mendengarnya langsung, namun aku pernah melihatnya meneskan air mata dan mengeluarkan sumpah serapah. Jelas itu bukanlah kenangan yang terpatri dalam hitungan minggu, ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk rasa sedih yang kerap ku lihat saat itu. Kenangan itu seperti lubang-lubang kayu dari paku yang telah dicabut, membekas. Sampai saat ini, ia tidak setuju jika cinta berwarna merah jambu, warna yang cukup menentramkan hati (Meski aku antipati dengan warna itu!). Baginya, cinta bisa berwarna dan berwujud apapun.
Seperti Hnsf, yang selalu berharap perasaan itu akan datang pada tempat yang tepat. Namun, semua itu salah. Kali ini perasaan itu datang pada orang yang salah, meski kata“salah” tidak diperuntukkan untuk siapapun, tidak dirinya, tidak juga untuk pria itu. Jangankan untuk menggumamkannya, berharappun ia tak patut. Semua rasa itu terasa menyesakkannya, membuatnya tak berdaya. Ia pun menangis, dan menyesali. Namun, apa yang dapat ia lakukan?! Jika perasaan bisa dikendalikan seperti yang kita mau, maka akupun akan mengendalikan perasaanku untuk tidak memilihnya, begitu juga dengan temanku.
Pada dasarnya, Ian juga mengalami hal yang sama. Perasaan terpasung akan membuat otaknya tumpul, bibirnya kelu dan hatinya berirama tak menentu. Disatu sisi, itu adalah Jack Daniel yang dapat membuainya sesaat. Namun disisi lain, itu adalah raksa yang dapat merusak segalanya tanpa ia dapat mengenali siapa dirinya. Bagiku, saat merasakan cinta, dirinya terlihat seperti orang linglung dan tak menentu. Sesekali mencaci, sesekali memuji namun sesekali ia juga tampak sudah melupakannya. Ya, dirinya kerap merasa terkubur di liang yang ia gali sendiri. Meski detik ini, baginya cinta adalah surga yang bisa dinikmati siapa saja, karna aroma surgawi itu telah sampai diujung hidungnya. Ia telah menghirupnya dan tidak ingin menghempaskannya.
Apapun wujudnya, rasanya, ataupun sensasinya cinta tetaplah sebuah racun bagi tiap-tiap kehidupan kami. Bukannya mencela tuhan yang telah menciptakan rasa itu diantara manusia untuk saling melengkapi. Kami pasti akan merasakan sinar cinta yang sesungguhnya; bercahaya, tulus dan tanpa pamrih. Setidaknya, ia akan datang pada momen dan orang yang tepat. Semoga…
Filed under: Catatan Hati | 1 Komentar »