Sulitnya Menetralisir Rasa

Percakapan yang terjadi minggu ini, ternyata masih membuatku sakit dan perih. Ini cerita sebuah pengakuan yang telah ku lakukan untuk kedua kalinya. Aku kembali menjadi wanita bodoh yang terdikte oleh perasaan. Aku menulis inipun untuk meluapkan kekesalanku yang sudah mlampaui batas mengkhawatirkan. Aku tak tahan…

Tak ada yang bisa ku lakukan kecuali, mengumpat, menyesali dan mengutuk kebodohanku yang berkepanjangan. Sesekali, aku membencinya bukan karena ia tak mengakui diriku sebagai salah satu tulang rusuknya yang hilang. Akupun tak berniat menggadaikan pertemanan yang telah lama terjalin dengan fantasi yang belum tentu menjanjikan sebuah kebahagiaan. Saat pengakuan itu juga bergulir dari bibirmu, seketika imaji malaikatku akan dirimu enyah seketika. KAMU JAHAT. Tak lebih dari tokoh pria yang ada di kisah perselingkuhan yang kerap ku lihat di film atau ku baca di buku cerita.

Ternyata kau punya pribadi itu. Pribadi berjudi dengan hati wanita. Aku membayangkan, bagaimana jika wanita itu adalah aku? Apa sesungguhnya perasaan yang ku rasakan saat itu? Sesakit apa rasanya? Aku tak tahu…

Namun, apapun yang telah terjadi dalam hidupmu, lagi-lagi aku bukanlah tuhan. Aku tak berhak menghakimimu sebagai pendosa, kemudian menghukum dirimu. Karena, aku juga manusia sepertimu. Bagiku, rasa bersalah dan penyesalan berkepanjangan yang kau rasakan cukup menjadi hukuman untukmu. Di sisi lain, aku menghargai kejujuranmu meski membuatku sakit. Ku akui sikap kelelakianmu.

Tanpa mengabaikan semua itu, aku tampak seperti gadis dungu saat bersamamu. Aku terbawa pada perasaan itu. Seperti katamu, tersesat itu nikmat. Aku mengakuinya. Aku tersesat di labirin hatimu. Butuh waktu lama bagiku untuk menemukan jalan pulang. Saat kau bertanya apa yang ku rasakan? Maka, sejujurnya ku katakan bahwa aku SAKIT. Tapi, lagi-lagi sesakit apapun rasanya, aku harus mencari obatku sendiri.

Aku tak ingin menyalahkan siapapun. Kita hanya diam termenung, meski kita telah tahu perasaan masing-masing. Hanya sesekali bertemu sembali melempar senyum. Meski ku terluka, aku tak pernah berupaya melupakanmu. Biarlah kenangan ini menjadi sebuah cerita manis sekaligus getir yang mewarnai perjalanan hidupku. Aku tak siap jika harus kehilangan teman dekat untuk yang kedua kalinya. Kita sudah sama-sama dewasa dalam menyikapi setiap permasalahan yang terjadi diantara kita. Semoga..

Satu Tanggapan

  1. Semoga…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.